Dinda
berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh ke arah Dimas – kekasih yang begitu ia cintai. Dimas
terlihat terdiam. Seakan sedang berpikir keras untuk mencari alasan paling
tepat untuk menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
“Mengapa kau
selalu terdiam? Apakah tak pernah tersirat dalam benakmu untuk menceritakan
semuanya kepadaku?”Tanya Dinda diiringi tangis pilu. Dimas tak menjawab. Tak
sepatah katapun terucap dari bibirnya.
“Aku hanya
tidak ingin membuatmu bersedih. Sudahlah lupakanlah saja masalah ini.
Pulanglah! Kembalilah ke duniamu!”Jawab Dimas penuh emosi. Kemudian Dinda
berjalan perlahan meninggalkan Dimas yang terlihat begitu menyesal.
Dinda tahu bahwa dirinya tidak dapat
membuat keadaan menjadi lebih baik. Dinda membatin. Tak lama berselang, Dinda
menoleh kearah Dimas. Dimas pun mengeluarkan sesuatu di balik kedua tangannya
yang sedari tadi terlipat dibalik punggungnya. Tak disangka sebelumnya, Dimas sudah
dalam posisi berlutut dengan membawa bunga mawar serta sepasang cincin yang
akan ia gunakan untuk melamar kekasih pujaannya itu.
“I’m sorry
for surprising you. But do you want to marry me?”Tanya Dimas penuh harap.
Dinda
bingung harus menjawab apa. Dan selang beberapa detik, Dinda menjawab , “Yes, I
do. But I’ll pinch u first !”ucap Dinda diselingi senyum simpul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar