“Kamu
semakin cantik dan anggun sekarang. Aku sungguh menyukainya,”ucap Doni pada
Maya. Ia tampak terpukau dengan tutur kata dan penampilan fisik Maya yang
semakin membuatnya terlihat semakin dewasa.
“Terima kasih. Kau pun begitu ..”
“Maksudmu aku menjadi semakin cantik?
Aku ini kan pria bukan wanita.”canda Doni.
“Aku hanya bercanda. Kau tampak
semakin tampan dan aku senang bisa bertemu denganmu lagi disini.”Jelas Maya
sambil membolak-balikkan daftar menu yang ada di meja bernomor dua puluh satu
itu.
Mereka saling bertatapan. Terlihat
kerinduan yang amat mendalam terpancar pada tatapan penuh makna tersebut.
Selang beberapa menit, Doni memesan dua porsi red velvet cake dan dua gelas
pineapple juice.
Cerita cinta semasa remaja terus
terurai dan membuka lembaran lama tentang kisah romansa saat mereka duduk di
sekolah menengah pertama. Maya teringat saat Doni berkata padanya bahwa ia
laksana bunga mawar merah yang tumbuh dan bermekaran di kebun cinta. Maya masih
mengingatnya dengan jelas meski sudah sepuluh tahun berlalu. Mereka telah
sama-sama dewasa sekarang.
“Emm. Apakah kau sudah mempunyai
kekasih?”tanya Maya
“Belum ,May. Aku baru saja putus
dengan kekasihku yang terdahulu. Bagaimana denganmu? Dan kalau boleh aku tahu,
mengapa kau mengundangku ke tempat ini?”
“Aku hanya ingin mengundangmu untuk
hadir di pesta pernikahanku nanti. Datang ya!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar