FF 200 Kata (Kejutan untuk Adinda)
Saat jam berdentang tepat pukul dua belas malam, disaat itulah malaikat kecil bunda bertambah
usia. Sejenak bunda berpikir, sudah berapa lama kau hadir di dunia ini nak?
Duhai anakku Adinda, kau tetaplah malaikat kecilku; tak peduli berapapun usiamu
kini.
Aku membatin. Seolah tak mengerti harus memberi apa. Hanya doa dan harapan penuh makna yang
terucap dari bibir ibundamu ini, Nak.
Dengan langkah perlahan, aku mulai berjalan menuju kamar
Adinda – anak sulungku. Pintu kamarnya terkunci. Tak bisa menahan rasa rinduku
yang teramat dalam, aku dengan segera mengetuk pintu kamarnya. Selang beberapa
detik, ia membuka pintu kamarnya untuk kemudian mempersilakanku masuk.
“Bu.. kapan.. ibu da.. tang?”tanya Adinda terbata-bata.
Dengan segera aku mendekap tubuhnya erat. Air mata perlahan membasahi pipinya.
“Maaf, Nak. Ibu tak bisa memberikan sesuatu yang lebih
mahal dan berharga dari ini.”ucapku seraya memberikan sepotong kue dan sebuah
kalung berhiaskan kulit kerang.
Aku mendekap tubuh anakku sekali lagi. Begitu erat. Kini
aku telah renta. Aku telah mencapai usia dimana hanya dirimu yang membuatku
tetap bergairah untuk menjalani kehidupan ini. Tiada asa yang tersisa pada
diriku yang telah menua ini selain melihat dirimu bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar